Nov 7, 2018
Comments Off

Julen Lopetegui adalah Kutukan Bagi Real Madrid?

Julen Lopetegui susah berjodoh dengan Real Madrid, sejak jadi pemain, pelatih tim kedua, hingga sebagai juru taktik tim utama saat ini.

“Kami bahagia bersama Julen Lopetegui dan akan bekerja lebih keras lagi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik,” ucap Raphael Varane usai Real Madrid dipermalukan Deportivo Alaves dalam lanjutan kompetisi La Liga Spanyol pekan ke-8 pada Sabtu (6/10/2018), seperti dikutip Marca.

Tak ada yang tahu, bek andalan Real Madrid asal Perancis itu memang berkata jujur atau hanya ingin menjaga kehamornisan tim. Yang jelas, sebagian besar fans Los Blancos tentunya tidak bahagia dengan kekalahan 0-1 dari lawan sekelas Alaves. Terlebih lagi, Varane dan kawan-kawan mencatatkan deretan hasil buruk dalam beberapa laga terakhir.

Lopetegui bukanlah nama asing bagi publik Santiago Bernabeu. Namun, entah mengapa, mantan kiper ini tampaknya memang susah berjodoh dengan El Real, baik semasa masih bermain, lalu sempat membesut Real Madrid B atau Castilla, hingga saat ini sebagai ketika kembali ke ibu kota sebagai pelatih skuad utama Los Blancos.

Meskipun bukan pemain asli didikan Real Madrid, Lopetegui mengawali karier profesionalnya di lingkungan klub ibu kota bertabur bintang itu. Pada 1985, ia bergabung dengan Castilla, tim kedua El Real, di usia 19, setelah menjalani masa junior di Akademi Real Sociedad.

Selama tiga musim di Castilla, ia mencatatkan jumlah penampilan yang lumayan, 61 kali. Capaian ini membuat pelatih tim utama Madrid kala itu, Leo Beenhakker, tertarik dan memberinya kesempatan naik kelas.

Namun, Lopetegui nyaris tak terpakai selama musim pertamanya di level tertinggi La Liga. Peruntungan lelaki kelahiran 28 Agustus 1966 berubah drastis Real Madrid meminjamkannya ke Las Palmas pada musim 1988/1989. Lopetegui mencatatkan 31 penampilan.

Kembali ke Madrid semusim berikutnya, Lopetegui kembali jadi “pengangguran”. Ia lebih sering termenung di bangku cadangan sebagai ban serep bagi penjaga gawang utama El Real periode itu, Francisco Buyo. Kendati timnya meraih trofi La Liga 1989/1990 dan dua kali juara Piala Super Spanyol (1989 dan 1990), namun Lopetegui seolah-olah hanya sebagai penggembira.

Lopetegui akhirnya benar-benar hengkang dari ibu kota pada 1991, lalu pindah ke sesama klub divisi utama, Logrones. Dasar memang tidak berjodoh dengan Madrid, karier Lopetegui langsung melonjak di klub barunya itu. Ia berandil penting membawa Logrones menempati jajaran 10 besar serta mencapai perempatfinal Copa del Rey di dua musim perdananya secara beruntun.

Tiga musim di Logrones, Lopetegui tampil dalam 107 laga La Liga, belum termasuk ajang-ajang lainnya. Jelang musim 1994/1995, Barcelona berminat. Lopetegui menerima tawaran itu kendati harus menyandang cap pembelot macam Luis Enrique, Samuel Eto’o, atau Ronaldo Luis Nazario de Lima. Lagi-lagi ia jarang dimainkan di klub seteru abadi Real Madrid tersebut.

Lopetegui hanya tampil 5 kali selama membela Barca hingga 1997. Selanjutnya, ia pindah ke Rayo Vallecano hingga gantung sarung tangan pada 2002 dengan mengoleksi 112 pertandingan. Usai pensiun, Lopetegui langsung menatap karier baru sebagai calon pelatih.

Sempat menjadi asisten pelatih tim nasional Spanyol U17 kemudian membesut Rayo Vallecano pada 2003, Lopetegui kembali ke klub profesional pertamanya, Real Madrid, jelang musim 2008/2009. Kali ini, ia dipercaya menukangi Castilla yang dulu pernah diperkuatnya selama tiga musim pada dua dekade silam.

Skuad Real Madrid B asuhan Lopetegui kala itu diperkuat oleh sejumlah nama yang kini cukup familiar, termasuk Alberto Bueno, Antonio Adan, Daniel Parejo, Adam Szalai, hingga Denis Cheryshev, dan berlaga di kompetisi divisi tiga Spanyol atau Segunda B.

Namun, Lopetegui lagi-lagi mendapati dirinya memang susah berkembang di Madrid, seperti dahulu saat masih menjadi pemain. Menangani calon-calon bintang masa depan di level kompetisi yang berjarak tipis dengan kompetisi amatir, kinerja Lopetegui tidak memuaskan.

Castilla besutannya hanya mampu finish di peringkat 6 Grup 2 sehingga gagal melaju ke fase berikutnya untuk memperebutkan tiket promosi ke divisi dua. Segunda B diikuti oleh total 40 klub yang dibagi dalam 4 grup. Masing-masing grup dihuni 20 klub.

Dari 38 laga di musim 2008/2009 itu, Daniel Parejo dan kawan-kawan hanya menang 18 kali, 9 kali imbang, dan kalah 11 kali. Catatan kemenangan skuad Lopetegui cuma menyentuh angka 47 (37 persen). Alhasil, Lopetegui hanya bertahan semusim di Real Madrid B.

Terdepak dari ibu kota, Lopetegui merasakan lagi bahwa ia memang bukan jodoh Real Madrid. Selama empat tahun berikutnya, Lopetegui ditunjuk menangani tim nasional Spanyol usia muda, dari level U19, U20, hingga U21, dan ia mengukir prestasi mengagumkan sebagai pelatih dalam periode ini.

Bersama Spanyol U19, Lopetegui merengkuh juara Piala Eropa U19 2012. Dari 11 laga resmi, 8 di antaranya dimenangkan, 3 kali imbang, tanpa pernah kalah. Persentase kemenangannya mencapai 72,73 persen.

Comments are closed.

blackberry agenliga